Sunday, April 25, 2010

Bahagiakan Hidup Dengan Ibadah dan Doa

Kirim Print

pr0012

Allah SWT berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkau pula kami memohon pertolongan” (Al-Fatihah:5)

Adapun kebiasaan baik kelima yang diajarkan oleh Allah dalam surat Al-fatihah adalah membahagiakan hidup dengan ibadah dan doa.

a. Bahagiakan hidup dengan Ibadah

Ayat di atas menegaskan kepada kita, akan pengakuan diri kepada Allah sebagai hamba-Nya untuk selalu beribadah dan berdoa kepada-Nya, tidak ada sarana lain dalam melakukan ibadah dan berdoa kecuali hanya kepada-Nya, dan dilakukan dalam bentuk yang berkesinambungan; kapan pun, dimana pun serta dalam kondisi bagaimanapun.

Ada sebagian orang yang begitu putus asa dalam menghadapi hidup. Bahkan dia tidak mau lagi mempunyai cita-cita atau tujuan hidup karena tidak tahu untuk apa hidup itu sebenarnya. Ada sebagian lainnya, seseorang yang mendapatkan kenikmatan hidup; karir yang terus naik, keluarga yang lengkap, prestasi yang gemilang, istri yang cantik, dan bahkan semua hal sudah ada di tangannya. Tetapi kemudian dia merasa bosan, bingung untuk apa selanjutnya hidup ini. Demikianlah perasaan yang menggelayuti hidup seseorang, perasaan hampa dan kosong menghantui hidup setiap orang yang tidak mengerti makna hidup. Rasa resah dan membutuhkan sesuatu, ada yang terasa kurang, tetapi apa?

Hidup yang dijalani selama ini mungkin belum memberikan makna yang berarti pada jiwanya, kadang dia merasa kecewa walaupun banyak yang dia inginkan sudah terwujud. Tidak mengerti apa tujuan hidup sebenarnya, mengapa dia bekerja? Dan untuk siapa dia bekerja? … dan ketika cita-cita dan keinginan semuanya sudah di dapatkan dan merasa sudah tidak ada lagi yang dicari, maka kehampaan itu akan datang dan sungguh sulit untuk memenuhinya.

Ketika manusia ditanya, apa tujuan hidup mereka di dunia ini? Pasti jawabannya sangat beragam; mungkin ada yang menjawab bahwa hidup ini hanya untuk mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya; ada yang ingin menjadi pejabat; ada yang ingin memiliki anak yang banyak; ada yang ingin mencari kebahagiaan; ada yang ingin mencari kebebasan; ada yang ingin berbagi kasih sayang; ada yang ingin mempertahankan eksistensi; ada yang ingin menikmati kepuasan seks; dan ada yang ingin menyembah Allah dan menjadi hamba Allah yang baik.

Itulah jawaban-jawaban yang mungkin akan kita temukan ketika ditanya tentang tujuan hidup, dan hal tersebut dapat kita artikan merupakan kegamangan manusia dalam menentukan tujuan hidupnya. Dan karena itulah Allah Yang Maha Rahman dan Rahim tidak membiarkan manusia mencari tujuan hidup sendiri-sendiri, tetapi Dialah yang menentukannya. Tugas manusia adalah berkonsentrasi untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan-Nya, bukan hanya menghabiskan waktu untuk mencari tujuan yang tidak jelas, karena waktu yang tersedia sangatlah pendek dan terbatas.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat:56)

Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan dan kenikmatan, karena itu kalau kita perhatikan, semua motif perbuatan manusia semuanya berujung pada upaya untuk menggapai kebahagiaan dan kenikmatan. Hanya saja ada yang memburu kenikmatan dan kebahagiaan semu dan sesaat, dan ada yang mengejar kebahagiaan hakiki meskipun tidak mesti diraih secara langsung.

Kebahagiaan Hakiki

Menurut Al-Qur’an jalan satu-satunya untuk menemukan kedamaian, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan dan kepuasan batin adalah ibadah.

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Ar-Ra’d:28)

Dan selain kebahagiaan batin, orang yang beriman dengan berbagai amal shalih juga akan merasakan kenikmatan lahiriah.

Allah SWT berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (An-Nahl:97)

Ruang lingkup dan Kategorisasi ibadah

Menurut Ibnu Taimiyah disebutkan bahwa ruang lingkup adalah luas dan Kategorisasi ibadah ada beberapa hal:

1. Ibadah yang terkait dengan kewajiban melaksanakan syiar-syiar Islam; seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

2. Ibadah yang terkait dengan amalan-amalan sunnah dan sukarela; seperti dzikir, tilawah Al-Qur’an, doa, istighfar, tasbih, tahlil, takbir dan tahmid.

3. Ibadah yang terkait dengan muamalah yang baik dengan sesama manusia; seperti berbuat baik dengan orang tua, menyambung tali silaturahim, berbuat baik terhadap anak yatim, orang miskin dan menyayangi binatang.

4. Ibadah yang terkait dengan kebaikan universal terhadap manusia; seperti berkata jujur, menunaikan amanah, komitmen dengan janji, membangun peradaban, memakmurkan bumi dan akhlaq-akhlaq mulia lainnya.

Keajaiban ibadah

Diturunkannya syariat pada hakikatnya bertujuan untuk mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat. Di antara manfaat terbesar ibadah adalah memenuhi kebutuhan jiwa yang rindu akan kedamaian dan ketenangan. Bahkan tidak hanya itu, banyak penemuan ilmiah yang mengemukakan dampak positif ibadah tertentu untuk fisik dan psikis manusia. Jika dalam kehidupan sehari-hari semua pekerjaan positif diniatkan untuk ibadah maka akan mendongkrak produktivitas yang sangat luar biasa, karena dia berusaha untuk melakukan yang terbaik tanpa harus diawasi.

Dengan bekerja orang dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, dan dapat memberikan kontribusi buat masyarakat yang membutuhkan, dan dapat menopang kebutuhan spiritualnya. Tanpa bekerja maka shalat, puasa, haji dan zakat serta ibadah lainnya sulit untuk ditunaikan.

Bekerja karena motif ibadah akan membangkitkan energi tambahan. Kita bekerja tidak karena diawasi oleh atasan tetapi terpacu untuk mendapatkan pahala dari bekerja itu sendiri dan terdorong untuk memenuhi perintah Allah yang lain yang tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan bekerja.

Untuk menyebutkan keajaiban ibadah memang banyak sekali, karena itu untuk dapat kita lihat bagaimana bentuk dari keajaiban itu sendiri maka akan kita coba melihatnya dari salah satunya saja yaitu ibadah shalat; bahwa ibadah shalat adalah ibadah paling utama, shalat adalah potret penghambaan sejati, sebagaimana shalat juga merupakan sarana untuk menghilangkan kepenatan jiwa dari masalah dunia, shalat dapat membantu memelihara kesehatan tubuh. Dan secara khusus juga akan kita dapatkan keajaiban ibadah shalat subuh; sebagai sarana membersihkan jiwa kita dari sifat munafik, menjadi terapi akal dan sarana terapi finansial.

pr00181

b. Bahagiakan hidup dengan doa

Setelah mendapatkan kebahagiaan diri dengan ibadah, tampaknya tidaklah lengkap hidup ini setelah kita melaksanakan ibadah kecuali dengan berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT; dengan memohon segala keinginan kita yang begitu banyak dan beragam. Oleh karena itulah Allah SWT mensandingkan ibadah dengan permohonan dalam satu ayat, agar hendaknya setiap orang yang telah menunaikan ibadah tidak lupa berdoa kepada-Nya, baik dalam bentuk permohonan agar dikabulkan segala permintaan, agar diberikan perlindungan serta diterimanya ibadah yang telah kita lakukan.

Doa, adalah suatu kata yang sudah sangat kita kenal, bahkan mungkin kita sudah mengetahuinya sejak kita berada di dalam kandungan ibu. Doa juga selalu menjadi pegangan setiap orang di kehidupan ini, dan memang seharusnya demikian adanya. Kita tidak mungkin melupakan doa di dalam hidup kita.

Doa adalah inti ibadah, senjata orang beriman, pengubah takdir, dan kunci terbukanya pertolongan serta sarana untuk membahagiakan diri dalam menghadapi berbagai kondisi.Begitupan doa adalah obat dan ibadah, bukti pengakuan seorang hamba kepada pencipta-Nya. Bukti bahwa manusia tidak memiliki satu kekuatan apapun. Doa juga sebagai satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah serta menyembuhkan hati dari keraguan dan kesedihan serta penyakit, membuka pintu rezki, dan memberikan keberkahan dalam hidup bahkan dalam setiap sesuatu.

Dan doa juga merupakan sebuah pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Allah SWT, sehingga kita merasa selalu membutuhkan-Nya kapan pun dan dimana pun. Sementara itu, orang yang tidak mau berdoa, maka dianggap tidak membutuhkan Allah dan disebut sebagai orang yang sombong. Padahal tidak ada gerakan pun yang mampu dilakukan olehnya; nafas yang keluar dari dalam tubuhnya, dan lain sebagainya melainkan dari Allah SWT semata.

Dalam Al-Quran disebutkan:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Berdzikirlah kepada-Ku, niscaya Aku berdzikir kepadamu”. (Al-Baqarah:152)

Lalu dalam ayat lain, disebutkan:

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Aku mengabulkan permohonan orang yang meminta kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi permintaan-Ku, dan beriman kepada-Ku.

Doa adalah satu mata rantai ibadah yang berkesinambungan. Doa bukan hanya sekadar “lafal atau ucapan” lalu selesai setelah diucapkan, tetapi merupakan “laku hidup”. Laku berarti “berjalan”, berjalan berarti bergerak, berkesinambungan dan tidak akan berhenti. Ini adalah siklus atau mata rantai dan inilah sebenarnya makna yang tersembunyi dari ibadah.

Tujuan dari ibadah; shalat dan dzikir adalah amar ma’ruf nahi mungkar. Makna tersembunyi padahal yang utama adalah “menabung” di akhirat. Kita perlu rumah di akhirat, dan rumah itu adalah “surga”. Bagaimana kita mau memiliki sebuah rumah, jika kita tidak pernah membuatnya? Pondasi, tembok, kamar tidur, dan atap, bahkan taman, perlu dibuat sedikit demi sedikit. Nah, shalat dan dzikir serta aplikasi dalam kehidupan sehari-hari itu adalah “proses” pembuatan sebuah rumah yang indah itu.

Membuat sebuah rumah di dunia saja membutuhkan banyak biaya, waktu dan pengorbanan. Demikian juga membangun sebuah rumah impian di surga, betapa besar dan berat godaan itu menerpa. Mengendalikan hawa nafsu duniawi, emosi dan sebagainya.

Ada banyak ragam dalam berdoa. Salah satunya dengan dzikir menyebut Asma Allah atau sering disebut Asmaul Husna (nama terbaik Allah). Dalam surah Al-A’raf ayat 180 dijelaskan bahwa

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“ Hanya milik Allah asmaul husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu “.

Asmaul al husna terdiri dari 99 nama, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, seratus kurang satu dan apabila dihafal oleh seseorang, dia akan masuk surga. Karena Allah itu ganjil dan suka yang ganjil”.

Ketika doa tak kunjung terkabul

Sering kita merasa lelah dalam berdoa, rasanya apa yang kita pinta tak kunjung dikabulkan. Sebenarnya di dalam Qur’an, Allah sudah menjanjikan bahwa setiap doa akan dikabulkan. Hanya saja kita tidak tahu, dalam bentuk apa wujud terbaik dari terkabul nya doa kita, dan juga kapan doa itu dikabulkan.

Dalam hal ini ada dua kisah menarik; Yang pertama, kisah Tsa’labah. Dia seorang miskin yang minta kepada Rasulullah saw untuk didoakan agar menjadi kaya (di sini ada pelajaran bahwa minta di doakan orang lain adalah boleh, juga bahwa bisa jadi doa sekelompok orang lebih makbul karena suatu kondisi istimewa tertentu). Rasulullah sempat menolak dua kali. Karena Tsa’labah terus mendesak, akhirnya pada permintaan ke tiga dia di doakan. Bukan Rasulullah yang menjadikan Tsa’labah kaya, tapi beliau hanya turut mendoakan. Alkisah, ternak kambing Tsa’labah mendadak berkembang biak dengan sangat cepat (pelajaran berikutnya: uang tidak turun dari langit, jadi tetap ada usaha, dalam hal ini Tsa’labah punya bibit modal kaya yaitu ternak kambing). Tsa’labah kemudian menjadi kaya. Saking banyaknya ternak dia, maka dia menggembala hingga keluar kota. Akibatnya dia sering terlambat shalat Jum’at, bahkan akhirnya tidak shalat Jum’at.

Kisah Tsa’labah berakhir menyedihkan. Dimulai saat Tsa’labah tidak membayar zakat, yang menyebabkan Rasulullah tidak mau menemui Tsa’labah hingga wafatnya Rasulullah. Kemudian Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah berikutnya juga tidak mau menerima zakat dari Tsa’labah. Akhirnya Tsa’labah mati merana di masa Umar.

Kisah kedua lebih mengagumkan. Inilah kisah Ayyub a.s. seorang rasul. Dia seorang kaya yang sangat bersyukur kepada Tuhannya. Kemudian dia diuji dengan kehancuran fisik. Ayyub adalah seorang kaya dermawan yang shalih. Dikisahkan bahwa Allah menguji Ayyub dengan kehilangan semua miliknya, terutama harga diri yang direndahkan serendah-rendahnya. Rumahnya roboh, anak-anaknya mati. Ayyub diuji dengan penyakit kulit yang menjijikan hingga tubuhnya berbau busuk. Hartanya ludes untuk pengobatan. Istri-istrinya minta cerai. Hanya satu istrinya yang masih setia, Siti Rahmah. Ayyub diusir oleh penduduk hingga menyepi di luar desa. Hanya Siti Rahmah saja yang setia mengirimkan bekal untuk Ayyub. (pelajaran : bahkan kehancuran sesorang pun bisa merupakan bukti kecintaan Allah pada hambanya, sesuatu yang mungkin sangat membingungkan secara logika manusia). Yang mengagumkan, Ayyub berdo’a tak putus-putus hingga 17 tahun!

Lalu Allah berkenan mencabut ujian untuk Ayyub. Dengan air yang memancar di dekat saung tempatnya beribadah, penyakit kulit Ayyub sirna. (pelajaran berikutnya: semua tabib yang hebat hanyalah perantara yang tidak bisa memberikan obat buat Ayyub. Ternyata Allah menurunkan obat untuk Ayyub hanya berbentuk air yang memancar dekat tempatnya berdoa.)

Kisah-kisah tersebut nyata telah terjadi di masa lampau. Bukan kisah fiktif, bukan dongeng, namun benar-benar kisah nyata. Masih banyak kisah lain yang memberikan berbagai contoh tentang bagaimana doa, wujud terkabulnya doa, dan baik buruk suatu permintaan.

Kalau merasa do’a tak kunjung terkabul, sudah berapa lamakah Anda berdo’a? Sudah 17 tahunkah?

Tetapi, ada sebagian dari kita, yang merasa bahwa doa yang dia panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kok tidak pernah dikabulkan. Padahal mereka ini selalu berdoa di setiap langkah kehidupannya.

Pasti di setiap doa kita, selalu meminta kepada Allah; rejeki yang melimpah, agar kita bisa hidup enak dan bahagia. Dan, ternyata itu tidak pernah terjadi. Mengapa? Masih banyak orang yang merasa, bahwa betapa sulitnya mereka mencari rezki untuk kehidupannya sendiri. Sangat banyak di antara kita, yang kebingungan mencari cara untuk memperoleh rezki. Bekerja dengan sangat keras, semata-mata untuk mendapatkan uang dalam jumlah banyak, tetapi tetap saja hanya memperoleh sangat sedikit, atau bahkan tidak mendapatkannya sama sekali.

Allah Pasti Mengabulkan Doa Setiap Orang

Allah berfirman dalam al-Qur’an bahwa Dia dekat dengan manusia dan akan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa kepada-Nya

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186)

Seseorang yang beriman terhadap kebenaran ini dapat berdoa kepada Allah mengenai apa saja dan dapat berharap bahwa Allah akan mengabulkan doa-doanya. Misalnya, seseorang yang mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan tentu saja akan berusaha untuk melakukan berbagai macam pengobatan. Namun ketika mengetahui bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kesehatan, lalu ia pun berdoa kepada-Nya memohon kesembuhan.

Demikian pula, orang yang mengalami ketakutan atau kecemasan dapat berdoa kepada Allah agar terbebas dari ketakutan dan kecemasan. Seseorang yang menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan dapat berpaling kepada Allah untuk menghilangkan kesulitannya. Seseorang dapat berdoa kepada Allah untuk memohon berbagai hal yang tidak terhitung banyaknya seperti untuk memohon bimbingan kepada jalan yang benar, untuk dimasukkan ke dalam surga bersama-sama orang-orang beriman lainnya, agar lebih meyakini surga, neraka, Kekuasaan Allah, untuk kesehatan, dan sebagainya.

Inilah yang telah ditekankan Rasulullah saw. dalam sabdanya:

أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلىَ مَا يُنْجِيْكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَيُدْرِ لَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ ؟ تَدْعُوْنَ اللهَ فِي لَيْلِكُمْ وَنَهَارِكُمْ ، فَإِنَّ الدُّعَاءَ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ

Maukah aku beritahukan kepadamu suatu senjata yang dapat melindungimu dari kejahatan musuh dan agar rezkimu bertambah?” Mereka berkata, “Tentu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Serulah Tuhanmu siang dan malam, karena ‘doa’ itu merupakan senjata bagi orang yang beriman.”

Ketika doa tidak dikabulkan, orang-orang tidak menyadari tentang rahasia ini, mereka mengira bahwa Allah tidak mendengar doa mereka. Sesungguhnya hal ini merupakan keyakinan orang-orang bodoh yang sesat, karena

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami (Allah) itu lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri.” (Qaf: 16).

Dia Maha Mengetahui perkataan apa saja yang diucapkan, apa saja yang dipikirkan, dan peristiwa apa saja yang dialami seseorang. Bahkan ketika seseorang tertidur, Allah mengetahui apa yang ia alami dalam mimpinya. Allah adalah Yang menciptakan segala sesuatu. Oleh karena itu, kapan saja seseorang berdoa kepada Allah, ia harus menyadari bahwa Allah akan menerima doanya pada saat yang paling tepat dan akan memberikan apa yang terbaik baginya.

Doa, di samping sebagai bentuk amal ibadah, juga merupakan karunia Allah yang sangat berharga bagi manusia, karena melalui doa, Allah akan memberikan kepada manusia sesuatu yang Dia pandang baik dan bermanfaat bagi dirinya. Allah menyatakan pentingnya doa dalam sebuah ayat:

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

“Katakanlah: ‘Tuhanku tidak mengindahkan kamu, andaikan tidak karena doamu. Tetapi kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak azab pasti akan menimpamu’.” (Al-Furqan: 77)

Allah Mengabulkan Doa Orang-orang yang Menderita dan Berada dalam Kesulitan

Doa adalah saat-saat ketika kedekatan seseorang dengan Allah dapat dirasakan. Sebagai hamba Allah, seseorang sangat memerlukan Dia. Hal ini karena ketika seseorang berdoa, ia akan menyadari betapa lemahnya dan betapa hinanya dirinya di hadapan Allah, dan ia menyadari bahwa tak seorang pun yang dapat menolongnya kecuali Allah. Keikhlasan dan kesungguhan seseorang dalam berdoa tergantung pada sejauh mana ia merasa memerlukan. Misalnya, setiap orang berdoa kepada Allah untuk memohon keselamatan di dunia. Namun, orang yang merasa putus asa di tengah-tengah medan perang akan berdoa lebih sungguh-sungguh dan dengan berendah diri di hadapan Allah.

Demikian pula, ketika terjadi badai yang menerpa sebuah kapal atau pesawat terbang sehingga terancam bahaya, orang-orang akan memohon kepada Allah dengan berendah diri. Mereka akan ikhlas dan berserah diri dalam berdoa. Allah menceritakan keadaan ini dalam sebuah ayat:

قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُونَهُ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara yang lembut: ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.” (Al-An’am: 63)

Di dalam al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia agar berdoa dengan merendahkan diri:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 55)

Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahwa Dia mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya dan orang-orang yang berada dalam kesusahan:

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan lain selain Allah? Sedikit sekali kamu yang memperhatikannya.” (An-Naml: 62).

Tentu saja orang tidak harus berada dalam keadaan bahaya ketika berdoa kepada Allah. Contoh-contoh ini diberikan agar orang-orang dapat memahami maknanya sehingga mereka berdoa dengan ikhlas dan merenungkan saat kematian, ketika seseorang tidak lagi merasa lalai sehingga mereka berpaling kepada Allah dengan keikhlasan yang dalam. Dalam pada itu, orang-orang yang beriman, yang dengan sepenuh hati berbakti kepada Allah, selalu menyadari kelemahan mereka dan kekurangan mereka, mereka selalu berpaling kepada Allah dengan ikhlas, sekalipun mereka tidak berada dalam keadaan bahaya. Ini merupakan ciri penting yang membedakan mereka dengan orang-orang kafir dan orang-orang yang imannya lemah.

Tidak Ada Pembatasan Apa pun dalam Berdoa

Seseorang dapat memohon apa saja kepada Allah asalkan halal. Hal ini karena sebagaimana telah disebutkan terdahulu, Allah adalah satu-satunya penguasa dan pemilik seluruh alam semesta; dan jika Dia menghendaki, Dia dapat memberikan kepada manusia apa saja yang Dia inginkan. Setiap orang yang berpaling kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, haruslah meyakini bahwa Allah berkuasa melakukan apa saja dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw.

Ia perlu mengetahui bahwa mudah saja bagi-Nya untuk memenuhi keinginan apa saja, dan Dia akan memberikan apa yang diminta oleh seseorang jika di dalamnya terdapat kebaikan bagi orang itu dalam doa tersebut. Doa-doa para nabi dan orang-orang beriman yang disebutkan dalam al-Qur’an merupakan contoh bagi orang-orang beriman tentang hal-hal yang dapat mereka mohon kepada Allah. Misalnya, Nabi Zakaria a.s. berdoa kepada Allah agar diberi keturunan yang diridhai, dan Allah pun mengabulkan doanya, meskipun istrinya mandul:

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا . قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا. وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا . يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Yaitu ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia ya Tuhanku, seorang yang diridhai’.” (Maryam: 3-6).

Maka Allah mengabulkan doa Nabi Zakaria dan memberikan kepadanya berita gembira tentang Nabi Yahya a.s.. Setelah menerima berita gembira tentang seorang anak laki-laki, Nabi Zakaria merasa heran karena istrinya mandul. Jawaban Allah kepada Nabi Zakaria menjelaskan tentang sebuah rahasia yang hendaknya selalu dicamkan dalam hati orang-orang yang beriman:

قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا . قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“Zakaria berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.’ Tuhan berfirman, ‘Demikianlah.’ Tuhan berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu belum ada sama sekali’.”(Maryam: 8-9)

Ada beberapa Nabi lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an yang doa-doa mereka dikabulkan. Misalnya, Nabi Nuh a.s. memohon kepada Allah untuk menimpakan azab kepada kaumnya yang tersesat meskipun ia telah berusaha sekuat tenaga untuk membimbing mereka kepada jalan yang lurus. Sebagai jawaban dari doanya, Allah menimpakan azab besar kepada mereka yang tercatat dalam sejarah.

Nabi Ayub a.s. menyeru Tuhannya ketika ia sakit, ia berkata:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

” Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya’: 83).

Sebagai jawaban terhadap doa Nabi Ayub, Allah berfirman sebagai berikut:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ

“Maka Kami pun mengabulkan doanya itu, lalu Kami hilangkan penyakit yang menimpanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. (Al-Anbiya’: 84).

Allah mengabulkan Nabi Sulaiman a.s. yang berdoa:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” ( Shad: 35).

Maka Allah mengaruniakan kekuasaan yang besar dan kekayaan yang banyak kepadanya.

Oleh karena itu, orang-orang yang berdoa hendaknya mencamkan dalam hati ayat ini:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah.’ Maka terjadilah ia. (Yasin: 82)

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, segala sesuatu itu mudah bagi Allah dan Dia Mendengar dan Mengetahui setiap doa. Allah Memberi Karunia di Dunia ini bagi Orang-orang yang Menginginkannya, Tetapi di Akhirat Mereka akan Menderita Kerugian. Orang-orang yang tidak memiliki ketakwaan kepada Allah dalam hatinya, dan imannya sangat lemah terhadap kehidupan akhirat, hanyalah menginginkan keduniaan. Mereka meminta kekayaan, harta benda, dan kedudukan hanyalah untuk kehidupan di dunia ini. Allah memberi tahu kita bahwa orang-orang yang hanya menginginkan keduniaan tidak akan memperoleh pahala di akhirat. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, mereka berdoa memohon dunia dan akhirat karena mereka percaya bahwa kehidupan di akhirat sama pastinya dan sama dekatnya dengan kehidupan dunia ini. Tentang masalah ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ. وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Di antara manusia ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.’ Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. (Al-Baqarah: 200-201).

Orang-orang yang beriman juga berdoa memohon kesehatan, kekayaan, ilmu, dan kebahagiaan. Akan tetapi, semua doa mereka adalah untuk mencari keridhaan Allah dan untuk memperoleh kebaikan bagi agamanya. Mereka memohon kekayaan misalnya, adalah untuk digunakan di jalan Allah. Berkenaan dengan masalah ini, Allah memberikan contoh tentang Nabi Sulaiman di dalam al-Qur’an. Jauh dari keinginan untuk memperoleh dunia, doa Nabi Sulaiman untuk meminta kekayaan adalah demi tujuan mulia untuk digunakan di jalan Allah, untuk menyeru manusia kepada agama Allah, dan agar dirinya sibuk berdzikir kepada Allah. Kata-kata Nabi Sulaiman sebagaimana yang diceritakan dalam al-Qur’an menunjukkan niatnya yang ikhlas:

إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ

“Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik karena ingat kepada Tuhanku.” Shad: 32).

Maka Allah mengabulkan doa Nabi Sulaiman a.s. tersebut dengan mengaruniakan kepadanya kekayaan yang sangat banyak di dunia dan ia akan memperoleh pahala di akhirat. Dalam pada itu, Allah juga mengabulkan keinginan orang-orang yang hanya menghendaki kehidupan dunia, namun azab yang pedih menunggu mereka di akhirat. Keuntungan yang telah mereka peroleh di dunia ini tidak akan mereka peroleh lagi di akhirat kelak.

Kenyataan yang sangat penting ini diceritakan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami akan memberikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya bagian sedikit pun di akhirat”. (Asy-Syura: 20).

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang, maka Kami segerakan baginya di dunia apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. (Al-Isra’: 18).

Sebenarnya Tuhan selalu mengabulkan doa setiap manusia, dengan melalui 3 (tiga) cara, yaitu:

1. Doa yang secara langsung dikabulkan:

Ini bisa langsung dinikmati oleh orang yang berdoa, diberikan Tuhan sesuai dengan apa yang didoakan tersebut. Ini biasanya doanya para ulama/kyai, wali Tuhan, nabi, dan rasul.

2. Doa yang dikabulkan dengan cara digantikan:

Keinginan doa tersebut, diganti oleh Tuhan dengan suatu hal yang pasti lebih baik. Misalnya, orang berdoa untuk memperoleh uang banyak, dan doanya diganti oleh Tuhan dengan menyelamatkannya dari marabahaya yang mengancam jiwanya.

3. Doa yang dikabulkan dengan cara digantungkan:

Inilah sebenarnya doa yang dikabulkan untuk sebagian besar umat manusia, termasuk kita semua yang merasa sebagai manusia biasa. Doa yang digantungkan, artinya adalah, bahwa doa yang kita panjatkan kepada Tuhan tersebut “sudah dikabulkan oleh Tuhan”, tetapi dalam kondisi “masih menggantung di atas”, yang harus kita raih jika kita ingin segera mendapatkan hasil dari doa kita.

Istilah “digantungkan” ini, memberikan pemahaman bagi setiap orang, bahwa diperlukan suatu upaya semaksimal mungkin dari diri kita masing-masing; untuk meraih “yang digantungkan tersebut”. Jika kita tetap berusaha dengan gigih, fokus, pantang menyerah dan selalu bersemangat positif, maka niscaya akhirnya doa kita pasti bisa kita dapatkan. Setinggi apapun Tuhan menggantungkan “doa yang telah dikabulkan-Nya”, pasti kita dapat meraihnya, jika kita punya kemauan dan keuletan dalam berusaha meraihnya.

Pemahaman tentang terkabulnya setiap doa kita, seperti uraian saya di atas adalah sangat penting. Jika Anda sudah memahami, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa selalu mengabulkan doa yang kita panjatkan ke Dia, maka kita tidak akan mudah menyalahkan Tuhan. Sebaiknya kita “introspeksi diri”, sejauh mana kita sudah berusaha meraih doa-doa kita sendiri tersebut.

Empat paradigma doa:

1. Doa yang kita lakukan adalah untuk memperjelas posisi kita sebagai hamba dan Allah sebagai Khaliq. Mengakui diri sebagai hamba akan menjadikan kita rendah hati, tidak sombong dan selalu merasa bergantung kepada-Nya. Untuk mewujudkan rasa rendah hati, maka tampillah sopan, khusyu’ dan merendahkan suara dan tidak berteriak-teriak.

2. Doa adalah sarana mengingat dan berdzikir kepada Allah. Allah menyuruh kita berdoa agar kita ingat kepada-Nya. Dengan mengingat-Nya, hati kita akan tenang dan ketenangan adalah kunci kebahagiaan. Untuk membantu suasana dzikir maka pastikan kita dalam keadaan kondisi suci, menghadap kiblat, merenggangkan kedua tangan dan mengangkatnya, bertobat dan mengakui segala dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan, dan meminta dengan penuh keikhlasan.

3. Doa adalah permohonan dan harapan. Doa hakikatnya adalah permohonan kita untuk mencapai target yang ingin kita raih. Saat kita berdoa agar disehatkan badan, ditambah ilmu dan harta diberkahi, maka kita berharap semoga permohonan kita diterima sesuai dengan yang diminta. Agar kita benar-benar serius meminta maka sebagai doa tersebut diulang-ulang, karena Rasulullah saw sering mengulang tiga kali doa yang dibacanya.

4. Doa adalah motivasi. Pada saat kita berdoa, kita termotivasi untuk menjemput apa yang kita minta. Karena tidak masuk akal suatu doa akan dikabulkan kalau si pendoa hanya berpangku tangan dan ongkang-ongkang hati. Kalau kita memohon kepada-Nya surga firdaus, maka usaha yang kita lakukan harus sesuai dengan permintaan kita. Jadi setelah berdoa kita harus berusaha untuk mewujudkan apa yang kita minta.

No comments: